Research Hub FOZ Tindaklanjuti Riset Lumpur Aceh Jadi Bata Ringan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
riset lumpur Aceh jadi bata

Forum Zakat – Upaya pemulihan lahan pertanian yang terdampak banjir dan longsor di Aceh terus diupayakan melalui berbagai inovasi. Salah satunya adalah penelitian pemanfaatan lumpur sawah sebagai bahan baku bata ringan yang tengah dikembangkan Forum Zakat Research Hub bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Syiah Kuala (USK), dan Nurul Hayat.

Pembahasan terbaru terkait perkembangan riset ini dilakukan dalam pertemuan antara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Azanuddin Kurnia dan Project Coordinator Program Lumpur Jadi Bata, Humairoh Anahdi, di Jakarta, Kamis (25/6/2026). Pertemuan tersebut sekaligus mendorong percepatan implementasi program.

Inisiatif ini merupakan tindak lanjut atas kerusakan luas lahan pertanian akibat bencana pada 26 November 2025. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh mencatat total 57.364 hektare sawah terdampak, dengan rincian 27.437 hektare rusak ringan, 13.651 hektare rusak sedang, dan 16.276 hektare rusak berat.

Penanganan untuk lahan dengan kerusakan ringan dan sedang telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah. Sementara itu, lahan dengan kerusakan berat masih membutuhkan solusi inovatif agar dapat kembali produktif.

Tim peneliti saat ini masih menyelesaikan tahap pematangan riset sebelum memasuki fase implementasi di lapangan. Tahapan selanjutnya akan mencakup diskusi kelompok terarah (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Aceh dan daerah lokasi pengambilan sampel seperti Pidie Jaya dan Aceh Tamiang.

FGD tersebut diarahkan untuk membahas hasil penelitian sekaligus merancang strategi implementasi, mulai dari penentuan lokasi percontohan, penempatan mesin produksi, hingga skema pengelolaan usaha dan pemasaran.

Pada tahap awal, penelitian difokuskan pada produksi bata ringan dari lumpur. Ke depan, teknologi ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi produksi bata bakar. Selain mengurangi timbunan lumpur, program ini juga ditargetkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat terdampak.

Hasil produksi bata ringan nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai material pembangunan rumah dan infrastruktur, sehingga memiliki nilai guna yang berkelanjutan.

Pemerintah Aceh menyatakan dukungan terhadap percepatan implementasi program ini. Kolaborasi lintas pihak dinilai menjadi kunci agar inovasi tersebut dapat segera diterapkan secara luas.

Selain aspek teknologi, tantangan lain yang dihadapi adalah mendorong penerimaan masyarakat terhadap penggunaan bata ringan, yang masih relatif terbatas. Oleh karena itu, upaya sosialisasi menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program di lapangan.